Sedikit gambaran kenapa saya ngasih judul “Kesalahan umum
yang menjadi kebiasaan dalam skripsi, terutama kuantitatif”. Lebih dari 1 tahun
saya sudah membuka jasa analisa data untuk skripsi, tesis, dan disertasi.
Sebelum saya mengetahui banyak hal tentang statistik penelitian, tidak lazim
kalau saya hanya membaca buku saja. Dulu, sewaktu lagi mengerjakan skripsi
punya sendiri, saya mengikuti pelajaran tentang penelitian, khususnya di bidang
statistik. Saya belajar dari salah satu seorang penulis, juga sebagai dosen.
Tentu, buku karya beliau tidak lepas dari bidang statistik pendidikan.
Setelah belajar banyak hal, beliau pernah berpesan, “Kamu bisa
lihat kualitas skripsi dari kampus-kampus disini, bandingkan dengan apa yang
telah dipelajari, tentunya harus dibandingkan dengan teori yang ada, bukan dari
pendapat”.
Karena penasaran, saya sering bekunjung ke perpus-perpus
kampus yang banyak terdapat skripsi mahasiswanya, khususnya daerah kota
Banjarmasin, baik itu negeri maupun swasta. Dari hasil yang saya temui, hampir 50%
lebih skripsi dengan pendekatan kuantitatif mengabaikan “uji normalitas”.
Apa sih uji normalitas tersebut?
Uji Normalitas adalah sebuah uji yang dilakukan
dengan tujuan untuk menilai sebaran data pada sebuah kelompok data
atau variabel, apakah sebaran data tersebut berdistribusi normal ataukah
tidak.
Uji Normalitas berguna untuk menentukan data yang telah
dikumpulkan berdistribusi normal atau diambil dari populasi normal. Metode
klasik dalam pengujian normalitas suatu data tidak begitu rumit. Berdasarkan
pengalaman empiris beberapa pakar statistik, data yang banyaknya lebih dari 30
angka (n > 30), maka sudah dapat diasumsikan berdistribusi normal. Biasa
dikatakan sebagai sampel besar.
Namun untuk memberikan kepastian, data yang dimiliki
berdistribusi normal atau tidak, sebaiknya digunakan uji normalitas. Karena
belum tentu data yang lebih dari 30 bisa dipastikan berdistribusi normal,
demikian sebaliknya data yang banyaknya kurang dari 30 belum tentu tidak
berdistribusi normal, untuk itu perlu suatu pembuktian. uji statistik
normalitas yang dapat digunakan diantaranya Chi-Square, Kolmogorov Smirnov, Lilliefors, Shapiro
Wilk, Jarque Bera. Pada umumnya, Uji normalitas yang paling sering
digunakan adalah Kolmogorov Smirnov.
Gimana? Masih beranggapan semua data yang kita dapatkan
berdistribusi normal?
Rumusnya aja ada banyak, masa kita abaikan begitu saja.
Kesalahan selanjutnya adalah penentuan rumus yang akan
digunakan.
Setelah mengetahui data normal atau tidak, maka langkah
selanjutnya adalah menentukan rumus yang akan digunakan. Dalam metode statistik
inferensial, peneliti seharusnya tidak hanya mendeskripsikan saja, namun harus
menganalisa angka yang digunakan untuk membuat prediksi dan mengambil keputusan
berdasarkan data statistik.
Umumnya, jika data bersifat normal, maka peneliti harus
menggunakan statistik parametrik, dan jika data berdistribusi tidak normal,
maka peneliti harus menggunakan statistic non-parametrik.
Untuk lebih jelasnya saya beri contoh :
Contohnya penelitian Ekperimen Awal (one group Pre-test
Post-test). Jika dari hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data berdistribusi
normal, maka peneliti harus menggunakan rumus Paired T-Test. Sebaliknya, jika
data berdistribusi tidak normal, maka peneliti harus menggunakan rumus
Wilxocon.
Sayangnya,masih banyak skripsi yang menyamakan rumus-rumus
uji hipotesa untuk berbagai macam jenis statistik dengan menamakan “Uji T”
tanpa ada kejelasan rumus apa yang digunakan terlebih jika data tergolong
parametrik atau non parametrik.
Selanjutnya resiko saya sebagai tukang hitung?
Yup, pastinya bakal bertentangan dengan dosen yang hanya
memperkuat opininya tanpa berdasarkan teori. Contohnya, saya ada pengalaman
ketika menghitungkan data dari mahasiswa salah satu kampus swasta di
Banjarmasin. Kebetulan skripsinya menggunakan metode kuantitatif. Ketika itu,
nilai dari uji T atau T-hitung hasilnya berupa minus. Dosen pembimbingnya
menyalahkan bahwa hasilnya tidak boleh minus.
Saya beri gambaran sedikit, menurut Sundayana (2014),
kriteria pengujian untuk uji hipotesa adalah :
-t table ≤ t test ≤ t
tabel, maka Ho diterima.
Atau -t test < -t table
t test > t
table, maka Ho ditolak.
Secara logika saya, jika hasil t-hitung tidak boleh berupa
minus, kenapa ada teori yang menyatakan kriteria demikian?
Yah, mungkin itu saja yang dapat saya sampaikan. Apa yang
saya sampaikan mungkin tidak penting, saya hanya mencoba memberikan sedikit
masukan, berharap supaya standard penelitian, khususnya daerah Banjarmasin
lebih bagus lagi, terlebih kalau yang baca tulisan ini seorang dosen.
Kebetulan dalam tulisan ini saya cuman ngambil dari satu
rferensi saja, karena semua referensi mengenai statistik penelitian pada
umumnya sama. Mohon kritikannya jika tulisan saya terdapat kesalahan, karena saya
masih belajar juga, tidak expert dalam bidang yang saya sukai.
Referensi :
Sundayana, Rostina. 2014. Statistik Penelitian Pendidikan.
Bandung: Alfabeta.
Label: Pendidikan